Youtuber Prank – Sekarang ini viralnya sebuah video dari Youtuber yang ada di Indonesia, yang berisi prank ke para ojek online (ojol). Di video yang sudah di hapus ini, Youtuber sengaja menjalankan prank dengan pesan makanan jumlah banyak dengan total ratusan sampai jutaan rupiah. Begitu makanan tiba di rumah, Youtuber ini berkata uang nya tidak cukup dan hanya pesan satu makanan. Akhirnya, sesudah ojol meminta belas kasihan dan mengalami kebingungan, Youtuber memberikan barang berharga atau uang.

Inilah Dampak Youtuber Prank Ojol

Youtuber Prank

Youtuber lain nya contoh nya Jerome Polin, Reza Arap dan Faiz memberikan kritikan ke konten ini. Para content creator juga mengikuti tentang konten tidak manusiawi ini.

Fenomena Sosial

Kenapa Youtuber dapat membuat konten seperti itu? Psikolog Sosial Hening Widyastuti membicarakan konten ini di buat berdasarkan fenomena sosial di jagat maya. “Awalnya mereka melihat fenomena ini dari public figure yang membuat konten prank di Youtube dengan berbagai macam topik. Contoh nya, public figure menyamar menjadi gelandangan atau orang miskin,” tutur Hening.

“Konten seperti ini sangat menghabiskan rasa belas kasihan dan emosi. Pada akhirnya, jutaan pemirsa melihat konten ini. Lalu orang sadar tentang jumlah rupiah yang mengalir ke kantong Youtuber ini,” papar Hening.

Kemudian apa yang terjadi? Hening menjelaskan jika hal ini memberikan ide di kalangan masyarakat luas. “Mereka mulai terpikirkan, ternyata mudah sekali membuat uang dengan cara ngeprank yang sederhana ini,” kata nya.

Baca Juga : Kenali Seputar Lukisan Viral Penuh Misteri Di Dunia

Dampak Psikologis

Tetapi ada hal yang tidak di perhatikan para content creator, atau Youtuber yang memakai stimulus psikologis warganet.

“Pada praktek nya, sangat di sayangkan anak muda ini tidak punya pikiran yang panjang. Konten yang di buat memakai rasa belas kasihan pemirsa, sekaligus sangat membuat rugi secara psikologis ke ojol yang menjadi target nya,” papar Hening.

Ia menilai jika hal ini secara psikologis sama sekali tidak manusiawi.

“Hal lain yang di khawatirkan, banyak content creator yang meniru konten seperti itu. Dampaknya, ojol bisa ragu dan tidak tenang jika ada orderan dalam jumlah besar.”

“Banyak anak muda yang berpikir ingin cepat, ingin cepat memperoleh uang walaupun mengorbankan orang lain,” kata Hening.

Shock Therapy untuk Membuat Prank

Apabila terkena prank seperti itu, Hening menceritakan, para ojol wajib memberanikan diri “membalas dendam secara psikologis” dengan cara menggertak pemesan.

“Buat pengorder ini shock dengan cara melaporkan nya ke ojol, atau pihak aparat bisa pasang video untuk merekam si pembuat prank dengan tujuan shock therapy,” kata nya.

Yang terakhir, para public figure juga dapat membantu untuk sosialisasi atau kampanye supaya content creator tidak membuat youtube yang berisi tentang content prank yang bisa merugikan orang lain.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *